Contoh naskah drama persahabatan

Menulis naskah drama tidaklah jauh berbeda dengan membuat karya sastra lainnya. Bedanya naskah drama harus ditulis lebih detil, baik itu seting tempat, seting tokoh dan juga dialognya. Dan hal inilah yang membuat naskah drama lebih sulit ditulis dibandingkan karya sastra lainnya. Berikut ini contoh naskah drama persahabatan yang menceritakan tentang 2 orang sahabat yang kembali dipertemukan setelah sekian lama berpisah. Pertemuan yang seharusnya terasa manis tersebut justru hanya menyebabkan penderitaan mereka berdua. Apakah yang menyebabkan penderitaan mereka berdua? Bagaimana mereka mengatasinya diantara semua hukuman yang diberikan bu Erna? Simak naskah drama persahabatan berikut ini:

Tema    : Persahabatan
Judul    : Kata Maaf Sahabat
Tokoh   : 1. Salman       (introvert, sombong); 2. Wildan  (introvert); 3. Bu Erna     (galak dan tegas, bijaksana)

Sinopsis drama:
Salman dan Wildan adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Berbeda dengan anak SMA kebanyakan yang lebih memikirkan mencari gebetan, Salman dan Wildan justru serius memikirkan cara meraih mimpi mereka menjadi seorang Park Ji Sung jilid dua. Mereka ingin menjadi pemain Asia selanjutnya yang merajai permainan sepak bola liga Inggris di Eropa. Karena itu mereka selalu giat berlatih mengejar impiannya sampai malapetaka yang mengerikan tersebut terjadi.

Ayah Wildan yang seorang CEO sebuah perusahaan besar membuat fitnah keji pada Ayah Salman yang hanya merupakan seorang karyawan bawahannya. Hingga kehidupan keluarga Salman menjadi hancur setelah Ayahnya masuk penjara. Tidak hanya keluarganya, namun impian Salman menjadi pemain sepakbola dunia hancur seketika saat kakinya terluka parah karena tertabrak mobil sewaktu Salman menjajakan koran untuk membantu menambah uang makan sehari-hari. Bukan hanya pada Ayah Wildan, Salman memendam kemarahan. Dendam terbesarnya tersimpan untuk Wildan yang tiba-tiba saja menghilang sejak kejadian fitnah keji yang disebarkan Ayah Wildan. Dua tahun kemudian mereka kembali bertemu dalam dendam dan kemarahan.

Naskah drama:
Di bawah tiang bendera saat matahari bersinar terang tepat di atas kepala, Salman dan Wildan menunduk dalam tatapan tajam dan penuh kemarahan Bu Erna. Wajah mereka berdua yang bersimbah darah, bukannya menimbulkan belas kasihan Bu Erna melainkan justru semakin meniup bara kemarahan Bu Erna.

Bu Erna (berkacak pinggang, marah)     : “Tentang apa ini?!” (Bu Erna mengangkat dagu Salman dan   Wildan bergantian)
                                                                “Cepat katakan pada Ibu!”
Salman (tersenyum sinis)                       : “Kenapa Ibu bertanya pada saya? Tanyalah siswa kebanggaan Ibu ini.”
Bu Erna (masih marah,                           : “Katakan Wildan, ada apa ini?” (setengah putus asa)
namun kali ini memandangi Wildan)       “Tidak biasanya kamu seperti ini. Berkelahi sampai babak belur seperti ini. Dan ini bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali.  Lagi-lagi dengan Salman. Ada apa sih, sebenarnya dengan kalian?! Ada apa dengan kamu sama Salman, Wildan? Ini seperti bukan kamu, Wil.”
Salman (mendengus, sinis)                    : “Ough, sayang sekali Ibu harus melihat kenyataan ini. Siswa   kebanggaan Ibu
                                                                ternyata tidak seperti yang Ibu pikirkan. Tapi ketahuilah Ibu Erna, bahwa dia memang bermuka dua seperti ini! Seperti yang Ibu lihat hari ini!”

Kekecewaan Bu Erna pada Wildan tidak mendapatkan penjelasan yang masuk akal dari Wildan dan Salman. Beberapa pertanyaan yang seharusnya mudah dijawab Wildan justru sama sekali tidak bisa dijawabnya. Mulut Wildan seperti dikunci dan kuncinya entah dibawa siapa. Hingga terpaksa Bu Erna menghukum Salman dan Wildan berdiri di bawah tiang bendera. Tidak peduli dengan darah yang sedikit mengering dipinggiran bibir kedua anak didiknya, Bu Erna memutuskan menjemur mereka berdua hingga jam pelajaran sekolah usai sampai mereka mengakui apa yang terjadi pada mereka berdua sebenarnya.

Salman (meringis menahan sakit)          : “Sampai kapan kamu akan berdiam diri, ha?! Jangan pernah    berpikir aku hanya
                                                               Akan mengakhirinya disini. Ini baru awal. Akan ada yang lebih berat. Lebih berat dari rasa sakit yang kuderita selama ini!”
Wildan (menghela nafas, mengelap       : “Lakukan saja sesukamu. Kau yang mengawalinya jadi kau juga yang darah kering di sudut bibirnya)                 seharusnya mengakhirinya. Lakukan saja sepuasmu, Sal.”
Salman (marah besar, mencengkeram
Kerah baju Wildan) : “Apa?! Sepuasku? Sialan! (tinju kembali melayang ke wajah Wildan)

 
Salman dan Wildan kembali terlibat perkelahian. Tepat di bawah tiang bendera dihari yang sangat terang benderang dimana matahari memberikan cahaya yang paling menusuk. Tidak hanya menusuk bagi kulit tapi juga menusuk hati Salman dan Wildan. Kawan yang dulunya tak terpisahkan kini menjadi musuh bebuyutan.

Bu Erna (dari kejauhan arah kantor guru): “Salman!” (berlari terburu-buru) “Wildan! Berhenti!”
Perkelahian Salman dan Wildan seperti badai yang datangnya tidak bisa dibendung. Bahkan ancaman hukuman yang diberikan Bu Erna juga tidak sanggup menghentikan mereka. Salman dan Wildan telah diliputi dendam kesumat yang tidak bisa dihentikan siapapun termasuk guru yang seharusnya mereka hormati.

Di depan puskesmas, saat waktu menjelang maghrib. Salman dan Wildan masih berurusan dengan Bu Erna. Mereka harus mendapatkan luka jahitan karena perkelahian hebat yang telah mereka lakukan. Sementara Bu Erna masih di dalam puskesmas mengurus administrasi, Salman dan Wildan kembali terlibat percakapan serius.

Wildan (memandang Salman,     : “Kau baik-baik saja?”
Mengulurkan tangannya memeriksa luka Salman)
Salman                                     : (menepis tangan Wildan) “Cemaskan dirimu sendiri.”
Wildan (tersenyum)                    : “Yah, tinjumu memang cukup keras, tapi aku baik-baik saja. Ini bukan apa-apa,
                                                  dibandingkan dengan....”
Bibir Wildan kelu dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Salman (marah besar)                : “Dibandingkan apa, ha?!” (mencengkeram kerah baju Wildan) “Katakan!”
Wildan (memandangi Salman     : “Maaf. Maafkan aku, Sal...” (menunduk menangis)
dengan perasaan terluka)
salman (masih marah)                : (masih mencengkeram kerah baju Wildan) “Apa kau bilang?”
Wildan hanya menunduk dan menangis. Bahkan ketika tangan Salman yang mencengkeram kerahnya semakin kuat seperti hendak melemparnya jauh dari bumi, Wildan hanya menangis.
Salman (marah, menangis)         : “Seharusnya sejak dulu kau katakan! Sejak fitnah keji itu datang! Hingga aku tidak                                                  perlu mencarimu karena dendam! Karena kita tetap bisa berkawan.”

Salman dan Wildan sama-sama terduduk menangis menyesali jalan yang harus mereka lalui. Sementara Bu Erna terseyum melihat kedua anak didiknya berdamai dengan masa lalunya.

Sedikit contoh naskah drama persahabatan tersebut semoga dapat menjadi panduan menulis naskah drama yang baik dan dapat menyampaikan pesan dengan sempurna kepada penonton.

Contoh Drama Lainnya


0 Response to "Contoh naskah drama persahabatan"

Poskan Komentar